Berita SMANDA

Berlebihan atau Wajarkah Respon Masyarakat Indonesia Terhadap Pandemi Covid-19?

Seperti yang kita ketahui, Indonesia tergolong negara terakhir yang menyatakan adanya kasus virus Corona terhadap warga negaranya. Mulanya memang bahagia, tetapi setelah berita tentang pasien positif pertama dirilis, masyarakat jadi kalang kabut. Mulanya memang bangga, karena mengira imunitas ‘Warga 62+’ sudah baik dan kebal terhadap virus Corona. Nyatanya, teh hangat dan kerokan saja tidak cukup, kan?

Bukan hal baru melihat masyarakat Indonesia membercandai wabah yang satu ini. Tetapi, tahukah kalian? Saat baru segelintir orang yang dinyatakan positif terjangkit, respon masyarakat Indonesia tidaklah sesantai yang mereka ungkapkan di sosial media. Banyak yang panik dan bertindak berlebihan. Memang benar NCov-2019 penularannya sangat cepat. Sedangkan, masa inkubasi agak lambat dan gejala awal sangatlah sepele. Batuk pilek yang biasanya dihiraukan, sekarang bikin ketakutan.

Bagi kota yang mobilitasnya tinggi seperti jabodetabek, masyarakatnya tentu lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Apalagi Jakarta Selatan, sampai malampun masih terdengar denyutnya. Karena itu, jangan kaget kalau Jakarta Selatan dibilang sebagai penumpukan dari banyaknya kasus virus Corona di Jakarta. Seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, Jakarta Selatan butuh pengawasan lebih dibanding kota lainnya. Sebentar lagi, pasti banyak orang yang lebih memilih berdiam diri di rumah daripada harus berkeliaran. Waduh, kebiasaan warga Jaksel which is hedon dan sosialita bakalan redup, nih.

Lalu, sudah dengar tentang salah satu pusat perbelanjaan di Tangerang yang stok bahan makanannya ludes tak bersisa? Ibu-ibu dari usia muda hingga tua, semuanya parno dan berebut membeli bahan makanan. Hal ini disebut dengan panic buying—kecenderungan membeli apapun karena rasa takut akan krisis. Tidak masalah antre panjang, yang terpenting mi instan sudah ada di tangan. Eh, mi instan? Tentu saja. Selain karena rasanya yang terjamin, mi instan juga bukan barang impor yang perlu dikhawatirkan tercemar virus Corona.

Selain itu, kalian juga pasti sudah tahu tentang melonjaknya harga masker yang tidak wajar. Beberapa oknum mengambil keuntungan yang sangat besar di tengah-tengah wabah yang melanda. Untuk masyarakat menengah ke atas, harga mahal bukan jadi masalah. Dengan entengnya mereka membeli masker meski harus merogoh kocek lebih dalam. Padahal masker tidak berefek apapun jika yang terinfeksi virus tidak diisolasi!

Nah, apakah langkah yang diambil itu memang tepat dalam menghadapi virus Corona? Apakah menyetok bahan makanan dan masker akan membuat kita lebih aman dan sehat? Tidak ada yang menyalahkan hal itu. Tapi, ingatlah bahwa sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Lagipula, lebih efisien kalau kita meningkatkan daya tahan tubuh serta menghindari terlalu lama berada di tempat umum. Jadi, memang lebih baik rebahan daripada keluar rumah tanpa tujuan.

Selain itu, jika terus-terusan menyetok makanan tanpa mempertimbangkan dampaknya, maka hal ini akan menimbulkan masalah baru. Pendistribusian makanan tidak merata dan lagi-lagi masyarakat menengah ke bawah yang jadi korbannya. Intoleran banget!

Mulai sekarang, lebih baik mengontrol diri sendiri untuk tidak berlebihan dalam menghadapi virus Corona ini. Jangan mendahulukan panik sampai lupa sekitar. Jaga kesehatan bukan berarti belanja berlebihan. Pola makan dan gaya hidup yang sehat-lah yang seharusnya diterapkan. Jangan jadikan virus Corona sebagai alasan berlaku boros. Tetap update informasi, dan tentu saja berdoa dimanapun kalian berada.

 

Ditulis oleh Nadilla Amanda (11MIA2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *